Sunday, June 26, 2011

Kawan Hidup Bernama Syukur

Sebuah lingkar memadukan kunang-kunang,
kasti,
dan seorang autis bernama Zaid.
Mereka semua kawan lamaku yang kurindukan.
Kami pernah bertemu, dulu, dulu sekali.
Setiap sore aku akan berkeliling desa,
mendengar suara-suara,
dengan mereka di kepalaku.
Setiap sore aku bahagia.

Aku tidak tahu, kenapa bagi beberapa orang syukur itu sulit.
Padahal setiap nafas patut disyukur,
setiap potong detik patut disyukur.

Ames, June 26th

Friday, June 17, 2011

Dandelion Sepertimu

Sore ini,
putik rapuh dandelion kembali diterbangkan semilir.
Kudengar lirih nyanyiannya mengirama di balik jendela kaca,
mungkin karena sunyi,
mungkin karena rindu.
Seperti dandelion, orang merindu akan terbang ke mana-mana,
menyanyi apa saja.
Ia sedang berpura-pura,
agar samar lengkingperih hatinya,
agar tak nampak airmatanya,
agar ia 'merasa' baik-baik saja.

Ames, June 16th, 2011

Sunday, June 12, 2011

Food Journal

Sampai sekarang, begitu saya bangun dari tidur, saya masih sering lari ke jendela dan melihat ke depan apartemen. Lalu dalam hati saya bergumam: "Iya benar, saya ndak mimpi ada di sini." Beberapa ekor tupai kemudian nongol memancing saya untuk meraih si nikon, sebelum mereka pada kabur lagi. Dasar tukang pamer itu tupai :P
Tapi saya tidak akan bercerita panjang lebar soal tupai-tupai sombong itu, saya akan bercerita soal makanan. Di mana-mana cultural shock buat tiap orang pasti soal makanan dulu. Seperti lagu si adek kecil di iklan susu Dan**w:
"Dari perut turun ke kaki, dari perut naik ke tangan, dari perut ke kepala, dari perut ke semuanya. Lalalalala... lalalalala..."
Mestinya lirik pertama lagu itu adalah: "dari lidah ke perut, ke yang lain-lain." hehe. Semua orang pasti mengakui masalah lidah ini adalah yang paling krusial untuk hidup. Apakah yang terjadi kalau lidah kita shock sama makanan dari budaya berbeda? Kita mati? O jangan saudara-saudara, kita harus beradaptasi dan memaksakan diri.
Untuk kami yang baru hijrah ke Amerika, agak sulit menyesuaikan lidah dengan makanan Amerika yang tasteless. Kami biasa mengunjungi Union Drive Community Center, kantin besar makan sepuasnya untuk mahasiswa Iowa State University, dan dari sekian banyak sajian, kami cuma bisa makan kentang goreng, salad, pizza keju, dan buah. Apalagi kami sebagian besar muslim, jadi harus lebih selektif lagi.
Sebenarnya, hidup sekian lama di sini (halah, baru juga 2 minggu), membuat kami lebih sensible dan kreatif untuk menyiasati makanan kami sendiri. Cultural shock atas makanan tidak sertamerta membuat kami kurus kering karena ogah makan -saya juga tidak yakin kalau ada dari kami yang bisa mempertahankan berat badan :D
Khususnya saya dan Dwi, teman seapartemen saya yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung. Seperti postingan saya sebelumnya, kami punya banyak kesamaan, salah satunya adalah sama-sama hobi masak. Kami senang sekali dengan apartemen kami yang dapurnya sudah fully furnished, serba lengkap.
Saya dan Dwi biasa berbelanja bahan-bahan yang kami butuhkan di HyVee, Asian Market, dan tentu saja Walmart. Tiap pagi dan malam, saya dan Dwi biasa masak macam-macam semi-masakan Indonesia. Saya bilang semi karena belum mirip-mirip banget sama rasa aslinya. Kami masak opor tahu, tumis ikan teri, sambal goreng kentang, sup, dan masih banyak masakan aneh lainnya. Alhamdulillah sensibility ini menjadikan kami berdua bertambah berat badan.
Berikut foto semi-masakan Indonesia yang saya dan Dwi buat:

Ini namanya nasi

Ini opor tahu kentang (?)

Ini sambal goreng kentang (Dwi is potato freak!)
Ini Telur ceplok isi nasi goreng (?) Dimakan sama Tortilla, snack dari Mexico yang terbuat dari tepung dan jagung.
Sup
Bihun sayur
Selain sarapan dan makan malam di apartemen, kami juga sering mendapatkan undangan makan di luar. Andrew Teply dan keluarga besarnya pernah mengundang kami BBQ di lapangan frisbee FC, seperti piknik sambil bakar-bakar meat untuk burger, meskipun demikian meatnya lebih baik tidak dimakan karena beberapa kekhawatiran. Keluarga Ouwerkek juga mengundang kami makan malam di rumah mereka dekat Ontario St. Mereka pernah tinggal di Indonesia dan meminta kami memasak nasi goreng dari macam-macam pulau di Indonesia. Jadi kami memasak makanan kami sendiri dan tidak perlu terlalu paranoid. Nanti kami akan makan lagi dengan orang Indonesia yang berdomisili di Ames, plus BBQ bersama jamaah masjid Darul Arqum insyaAllah.
Intinya, tidak akan ada yang selamat dari bertambahnya berat badan. Dan faktanya, hidup di Ames akan melatih sensibility dan kreativitasmu untuk memikirkan sendiri makananmu. Syukurlah semua perempuan di grup Iowa senang memasak, jadi sering kami tukar-tukaran atau ngerampok makanan tetangga sebelah. Hanya saja kami harus belajar memasak tanpa mengaktifkan alarm asap :D

Tuesday, June 7, 2011

Weekdays in Ames

Kita benar-benar menarik apa yang ingin kita tarik ke dalam kehidupan kita. Kekuasaan Allah di atas segalanya, dan mudah saja bagi Allah memberi kita semua itu, selama kita meyakini tanpa setitikpun ragu dalam diri kita.
*
Alhamdulillah sudah seminggu saya di Ames, Iowa, US. Sudah sejak dulu saya mau menulis segala hal yang telah saya lalui selama di Ames, tapi karena minggu ini benar-benar sibuk, saya baru bisa menyempatkan hari ini.
Seperti bangun di dalam mimpi, saya bisa berada di Ames, salah satu kota kecil di sudut Iowa. Kota hijau yang langitnya selalu cerah. Tiap sore, dandelion beterbangan di sepenuh kota, seperti salju yang turun dari langit. Cuacanya cerah tapi cukup sejuk bagi kami. Di sekitar apartemen, kelinci dan tupai berkeliaran bebas. Subhanallah... benar, saya pernah bermimpi berada di tempat ini.
*
Grup Iowa IELSP Cohort 9 tiba pada tanggal 31 Juni 2011, pukul 7 malam. Tetapi karena musim panas, pukul tujuh malam seperti pukul 3 siang di Indonesia: terang benderang. Oleh Ms. Xiong sang chaperone, kami diantar ke restoran Asia di mana kami bisa makan nasi dan masakan Asia lainnya.
Setelah makan, kami berangkat ke walmart, semacam groceries seperti carrefour atau alfa di Indonesia. Kami membeli keperluan dasar kami selama beberapa hari ke depan. Pukul 11 malam kamipun berangkat ke apartemen.
Teman seapartemen saya adalah Dwi. Dia akhwat juga seperti saya. Dia suka masak juga seperti saya. Dia suka menulis juga seperti saya. Pokoknya banyaklah kesamaan saya dengan dia yang bikin saya bersyukur sekali bisa seapartemen dengan Dwi.
Hari-hari selanjutnya dipenuhi dengan tes penempatan kelas sebelum kuliah dimulai. Kami juga mulai belajar menumpangi CyRide, bus keliling Ames. Serta bagaimana makan di Union Drive Community Center, semacam kantin besar di mana kami bisa makan sepuasnya. Kami berkenalan dengan banyak warga Indonesia di Ames: bu Evi, Imelda, Destri, Jeremy dan Mas Ireng (yang kemudian menjadi guide kami ke mana-mana).
Ada banyak hal yang pertama kali saya lakukan selama di Ames, beberapa di antaranya adalah membersihkan apartemen saya di Schilletter University Village dengan vacuum, yang saking katroknya saya debu vacuum pada berhamburan keluar semua. Laundry di landromat SUV yang butuh satu setengah jam sampai saya tidur seperti tunawisma di dekat mesin cuci :D. Serta banyak hal baru lainnya.
Untuk hal ibadah adalah yang paling membingungkan selama minggu-minggu awal di Ames. Tapi sedikit demi sedikit kami mulai terbiasa dengan jadwal sholat musim panas. Kami juga telah membuat musholla khusus kami sendiri di sebuah ruang khusus dekat restroom. Plus, setelah sekian lama gelisah karena belum-belum juga tau masjid, kami sekarang sudah mengunjungi masjid. Masjid ini terletak di Ontario Street, sekitar 15 menit jalan kaki dari Union Drive, tapi dijamin ngos-ngosan pas tiba di masjidnya -mungkin lebih baik naik CyRide. Alhamdulillah masjidnya bagus sekali, memberi ketenangan bagi jiwa-jiwa kami yang gelisah.
*
Nah, seperti yang telah saya tulis sebelumnya: bisa berada di sini adalah anugrah Allah yang sangat besar bagi saya. Dan saya tidak bisa berhenti tertawa dalam hati mengenai apa yang melatarbelakangi ini semua. Suatu hal besar yang memberi perubahan tak kalah besarnya bagi hidup saya. Skenario Takdir sampai hari ini masih sangat menarik untuk saya perankan. Alhamdulilah, alhamdulillah, alhamdulillah. Ya Allah, maka nikmat-Mu yang manakah yang hendak kami dustakan?